Boat

Sabtu, 21 Desember 2013

Makalah Persaingan Pasar Sempurna

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada pasar ini kekuatan permintaan dan kekuatan penawaran dapat bergerak secara leluasa. Ada pun harga yang terbentuk benar-benar mencerminkan keinginan produsen dan konsumen. Permintaan mencerminkan keinginan konsumen, sementara penawaran mencerminkan keinginan produsen atau penjual. Bentuk pasar persaingan murni terdapat terutama dalam bidang produksi dan perdagangan hasil-hasil pertanian seperti beras, terigu, kopra, dan minyak kelapa. Bentuk pasar ini terdapat pula perdagangan kecil dan penyelenggaraan jasa-jasa yang tidak memerlukan keahlian istimewa ( pertukangan, kerajinan ).
Dalam persaingan sempurna ini pembeli dan penjual berjumlah banyak. Artinya, jumlah pembeli dan jumlah penjual sedemikian besarnya, sehingga masing-masing pembeli dan penjual tidak mampu mempengaruhi harga pasar. Dengan demikian masing-masing pembeli dan penjual telah menerima tingkat harga yang terbentuk di pasar sebagai suatu datum atau fakta yang tidak dapat di ubah. Bagi pembeli, barang atau jasa yang ia beli merupakan bagian kecil dari keseluruhan jumlah pembelian masyarakat. Bagi penjual pun berlaku hal yang sama sehingga bila penjual menurunkan harga, ia Akan rugi sendiri, sedangkan bila menaikan harga. Maka pembeli akan lari penjual lainnya.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas dapat di buat beberapa rumusan masalah yaitu antar lain:
  1. Ciri-ciri pasar persaingan sempurna.
  2. Pemaksimuman keuntungan jangka pendek.
  3. Keseimbangan dalam industri.
  4. Kebaikan & keburukan pasar persaingan sempurna.
1.3 Tujuan
Tujuan pembuatan karya tulis ini adalah:
  1. Untuk mengetahui cirri-ciri pasar persaingan sempurna.
  2. Untuk mengetahui pemaksimuman keuntungan jangka pendek.
  3. Untuk mengetahui keseimbangan dalam industri.
Untuk mengetahui kebaikan & keburukan pasar persaingan sempurna.
BAB II
PEMBAHASAN MASALAH
2.1 Ciri-ciri pasar persaingan sempurna
Pasar persaingan sempurna dapat didefinisikan sebagai suatu struktur pasar atau industri dimana terdapat banyak penjual dan pembeli, dan setiap penjual atau pun pembeli tidak dapat mempengaruhi keadaan di pasar.
Ciri-ciri selengkapnya dari pasar persaingan sempurna adalah seperti yang diuraikan dibawah ini :
v Perusahaan adalah pengambil harga
Pengambil harga atau price taker berarti suatu perusahan yang ada di dalam pasar tidak dapat menentukan atau mengubah harga pasar. Apa pun tindakan perusahaan dalam pasar, ia tidak akan menimbulkan perubahan ke atas harga pasar yang berlaku. Harga barang di pasar ditentukan oleh interaksi diantara keseluruhan produsen dan keseluruhan pembeli. Seorang produsen terlalu kecil peranannya didalam pasar sehingga tidak dapat mempengaruhi penentuan harga atau tingkat produksi dipasar. Peranannya sangat kecil tersebut disebabkan karena jumlah produksi yang diciptakan produsen merupakan sebagian kecil saja dari keseluruhan jumlah barang yang dihasilkan dan diperjual-belikan.
v Setiap perusahaan mudah keluar atau masuk
Sekiranya perusahaan mengalami kerugian, dan ingin meninggalkan industri tersebut, langkah ini dapat dengan mudah dilakukan. Sebaliknya apabila ada produsen yang ingin melakukan kegiatan di industri tersebut, produsen tersebut dapat dengan mudah melakukan kegiatan yang diinginkannya tersebut. Sama sekali tidak terdapat hambatan-hambatan, baik secara legal maupun dalam bentuk lain secara keuangan atau secara kemampuan teknologi, misalnya kepada perusahaan-perusahaan untuk memasuki atau meninggalkan bidang usaha tersebut.
v Menghasilkan barang serupa
Barang yang dihasilkan berbagai perusahaan tidak mudah untuk dibeda-bedakan. Barang yang dihasilkan sangat sama atau serupa. Tidak terdapat perbedaan yang nyata diantara barang yang dihasilkan suatu perusahaan lainnya. Barang seperti itu dinamakan dengan istilah barang identical atau homogenous. Karena barang-barang tersebut adalah sangat serupa para pembeli tidak dapat membedakan yang mana dihasilkan produsen A atau B atau produsen yang lainnya. Barang yang dihasilkan seorang produsen merupakan pengganti sempurna kepda barang yang dihasilkan oleh produsen-produsen lain. Sebagai akibat dari efek ini, tidak ada gunanya kepada perusahaan-perusahaan untuk melakukan persaingan yang berbentuk persaingan bukan harga atau nonprice competition atau persaingan dengan misalnya melakukan iklan dan promosi penjualan. Cara ini tidak efektif untuk menaikkan penjualan karena pembeli mengetahui bahwa barang-barang yang dihasilkan berbagai produsen dalam industri tersebut tidak ada bedanya sama sekali.
v Terdapat banyak perusahaan di pasar
Sifat inilah yang menyebabkan perusahaan tidak mempunyai kekuasaan untuk mengubah harga. Sifat ini meliputi dua aspek, yaitu jumlah perusahaan sangat banyak dan masing-masing perusahaan adalah relative kecil kalau dibandingkan dengan keseluruhan jumlah perusahaan di dalam pasar. Sebagai akibatnya produksi setiap perusahaan adalah sangat sedikit kalau dibandingkan dengan jumlah produksi dalam industri tersebut,. Sifat ini menyebabkan apa pun yang dilakukan perusahaan, seperti menaikkan atau menurunkan harga dan menaikkan atau menurunkan produksi, sedikit pun ia tidak mempengaruhi harga yang berlaku dalam pasar/industri tersebut.
v Pembeli mempunyai pengetahuan yang sempurna mengenai pasar
Dalam pasar persaingan sempurna juga dimisalkan bahwa jumlah pembeli adalah sangat banyak. Namun demikian dimisalkan pula bahwa masing-masing pembeli tersebut mempunyai pengetahuan yang sempurna mengenai keadaan dipasar, yaitu mereka mengetahui tingkat harga yang berlaku dan perubahan-perubahan ke atas harga tersebut. Akibatnya para produsen tidak dapat menjual barangnya dengan harga yang lebih tinggi dari yang berlaku di pasar.
2.4 Kebaikan dan keburukan pasar persaingan sempurna
Pasar persaingan sempurna memiliki bebarapa kebaikan dibandingkan pasar-pasar yang lainnya antara lain :
1. Persaingan sempurna memaksimumkan efisiensi
Sebelum menerangkan kebaikan dari pasar persaingan sempurna ditinjau dari sudut efisiensi, terlebih dahulu akan diterangkan dua konsep efisiensi yaitu:
a. Efisiensi produktif : Untuk mencapai efisiensi produktif harus dipenuhi dua syarat. Yang pertama, untuk setiap tingkat produksi, biaya yang dikeluarkan adalah yang paling minimum. Untuk menghasilkan suatu tingkat produksi berbagai corak gabungan faktor-faktor produksi dapat digunakan. Gabungan yang paling efisien adalah gabungan yang mengeluarkan biaya yang paling sedikit. Syarat ini harus dipenuhi pada setiap tingkat produksi. Syarat yang kedua, industri secara keseluruhan harus memproduksi barang pada biaya rata-rata yang paling rendah, yaitu pada waktu kurva AC mencapai titik yang paling rendah. Apabila suatu industri mencapai keadaan tersebut maka tingkat produksinya dikatakan mencapai tingkat efisiensi produksi yang optimal, dan biaya produksi yang paling minimal.
b. Efisiensi Alokatif
Untuk melihat apakah efisiesi alokatif dicapai atau tidak, perlulah dilihat apakah alokasi sumber-sumber daya keberbagi kegiatan ekonomi/produksi telah dicapai tingkat yang maksimum atau belum. Alokasi sumber-sumber daya mencapai efisiensi yang maksimum apabila dipenuhi syarat berikut : harga setiap barang sama dengan biaya marjinal untuk memproduksi barang tersebut. Berarti untuk setiap kegiatan ekonomi, produksi harus terus dilakukan sehingga tercapai keadaan dimana harga=biaya marjinal. Dengan cara ini produksi berbagai macam barang dalam perekonomian akan memaksimumkan kesejahteraan masyarakat.
Efisiensi dalam persaingan sempurna
Didalam persaingan sempurna, kedua jenis efisiensi ynag dijelaskan diatas akan selalu wujud. Telah dijelaskan bahwa didalam jangka panjang perusahaan dalam persaingan sempurna akan mendapat untung normal, dan untung normal ini akan dicapai apabila biaya produksi adalah yang paling minimum. Dengan demikian, sesuai dengan arti efisiensi produktif yang telah dijelaskan dalam jangka panjang efisiensi produktif selalu dicapai oleh perushaan dalam persaingan sempurna.
Telah juga dijelaskan bahwa dalam persaingan sempurna harga = hasil penjualan marjinal. Dan didalam memaksimumkan keuntungan syaratnya adalah hasil penjualan marjinal = biaya marjinal. Dengan demikian didalam jangka panjang keadaan ini berlaku: harga = hasil penjualan marjinal = biaya marjinal. Kesamaan ini membuktikan bahwa pasar persaingan sempurna juga mencapai efisiensi alokatif.
Dari kenyataan bahwa efisiensi produktif dan efisiensi alokatif dicapai didalam pasar persaingan sempurna.
2. Kebebasan bertindak dan memilih
Persaingan sempurna menghindari wujudnya konsentrasi kekuasaan di segolonan kecil masyarakat. Pada umumnya orang berkeyakinan bahwa konsentrasi semacam itu akan membatasi kebebasan seseorang dalam melakukan kegiatannya dan memilih pekerjaan yang disukainya. Juga kebebasaannya untuk memilih barang yang dikonsumsikannya menjadi lebih terbatas.
Didalam pasar yang bebas tidak seorang pun mempunyai kekuasaan dalam menentukan harga, jumlah produksi dan jenis barang yang diproduksikan. Begitu pula dalam menentukan bagaimana faktor-faktor produksi digunakan dalam masyarakat, efisiensilah yang menjadi factor yang menentukan pengalokasinya. Tidak seorang pun mempunyai kekuasan untuk menentukan corak pengalokasiannya. Selanjutnya dengan adanya kebebasaan untuk memproduksikan berbagai jenis barang maka masyarakat dapat mempunyai pilihan yang lebih banyak terhadap barang-barang dan jasa-jasa yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhannya. Dan masyarakat mempunyai kebebasan yang penuh keatas corak pilihan yang akan dibuatnya dalam menggunakan factor-faktor produksi yang mereka miliki.
Disamping memiliki kebaikan-kebaikan, pasar persaingan sempurna juga memiliki keburukan-keburukan antara lain :
1. Persaingan sempurna tidak mendorong inovasi
Dalam pasar persaingan sempurna teknologi dapat dicontoh dengan mudah oleh perusahaan lain. Sebagai akibatnya suatu perusahaan tidak dapat meemperoleh keuntungan yang kekal dari mengembangkan teknologi dan teknik memproduksi yang baru tersebut. Oleh sebab itulah keuntungan dalam jangka panjang hanyalah berupa keuntungan normal, Karena walaupun pada mulanya suatu perusahaan dapat menaikkan efisiensi dan menurunkan biaya, perusahaan-perusahaan lain dalam waktu singkat juga dapat berbuat demikian. Ketidakkekalan keuntungan dari mengembangkan teknologi ini menyebabkan perusahaan-perusahaan tidak terdorong untuk melakukan perkembangan teknologi dan inovasi.
Disamping oleh alasan yang disebutkan diatas, segolongan ahli ekonomi juga berpendapat kemajuan teknologi adalah terbatas dipasar persaingan sempurna karena perusahaan-perusahan yang kecil ukurannya tidak akan mampu untuk membuat penyelidikan untuk mengembangkan teknologi yang lebih baik. Penyelidikan seperti itu sering kali sangat mahal biayanya dan tidak dapat dipikul oleh perusahaan yang kecil ukurannya.
2. Persaingan sempurna adakalanya menimbulkan biaya sosial
Didalam menilai efisiensi perusahaan yang diperhatikan adalah cara perusahaan itu menggunakan sumber-sumber daya. Ditinjau dari sudut pandangnan perusahaan, penggunaannya mungkimn sangat efisien. Akan tetapi, ditinjau dari sudut kepentingan masyarakat, adakalanya merugikan.
3. Membatasi pilihan konsumen
Karena barang yang dihasilkan perusahaan-perusahan adalah 100 persen sama, konsumen mempunyai pilihan yang terbatas untuk menentukan barang yang akan dikonsumsinya.
4. Biaya dalam pasar persaingan sempurna mungkin lebih tinggi
Didalam mengatakan biaya produksi dalam pasar persaingan sempurna adalah paling minimum,tersirat (yang tidak dinyatakan)pemisalan bahwa biaya produksi tidak berbeda. Pemisalan ini tidak selalu benar. Perusahaan-perusahaan dalam bentuk pasar lainnya mungkin dapat mengurangi biaya produksi sebagai akibat menikmati skala ekonomi,perkembangan teknologi dan inovasi.
5. Distribusi pendapatan tidak selalu rata
Suatu corak distribusi pendapatan tertentu menimbulkan suatu pola permintaan tertentu dalam masyarakat. Pola permintaan tersebut akan menentukan bentuk pengalokasian sumber-sumber daya. Ini berarti distribusi pendapatan menentukan bagaimana bentuk dari penggunaan sumber-sumber daya yang efisien. Kalau distribusi pendapatan tidak merata maka penggunaan sumber-sumber daya (yang dialokasikan secara efisien) akan lebih banyak digunakan untuk kepentingan golongan kaya.
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil dari karya tulis ini adalah :
Ø Pasar persaingan sempurna dapat didefinisikan sebagai suatu struktur pasar atau industri dimana terdapat banyak penjual dan pembeli, dan setiap penjual atau pun pembeli tidak dapat mempengaruhi keadaan di pasar.
Ø Ciri-ciri dari pasar persaingan sempurna adalah
a. Perusahaan adalah pengambil harga
b. Setiap perusahaan mudah keluar atau masuk
c. Menghasilkan barang yang serupa
d. Terdapat banyak perusahaan di pasar
e. Pembeli mempunyai pengetahuan yang sempurna
Ø Kebaikan dan keburukan dari pasar persaingan sempurna
Kebaikannya :
a. Persaingan sempurna memaksimumkan efisiensi
b. Kebebasan bertindak dan memilih
Keburukannya :
a. Persaingan sempurna tidak mendorong inovasi
b. Persaingan sempurna adakalanya menimbulkan biaya social
c. Membatasi pilihan konsumen
d. Biaya produksi dalam persaingan sempurna mungkin lebih tinggi
e. Distribusi pendapatn tidak selalu merata

By: http://emperordeva.wordpress.com

Kamis, 05 Desember 2013

MORFOLOGI IKAN


Bagian-bagian Tubuh Ikan
Pengenalan struktur ikan tidak terlepas dari morfologi ikan yaitu bentuk luar ikan
yang merupakan ciri-ciri yang mudah dilihat dan diingat dalam mempelajari
jenis-jenis ikan. Morfologi ikan sangat berhubungan dengan habitat ikan tersebut di
perairan. Sebelum kita mengenal bentuk-bentuk tubuh ikan yang bisa menunjukkan
dimana habitat ikan tersebut, ada baiknya kita mengenal bagian-bagian tubuh ikan
secara keseluruhan beserta ukuran-ukuran yang digunakan dalam identifikasi.
Ukuran tubuh ikan. Ukuran standar yang dipakai dapat dilihat pada Gambar 2.1.
Semua ukuran yang digunakan merupakan pengukuran yang diambil dari satu titik
ke titik lain tanpa melalui lengkungan badan.
Panjang total (TL) diukur mulai dari bagian terdepan moncong/bibir (premaxillae)
hingga ujung ekor.
Panjang standar (SL) diukur mulai dari bagian terdepan moncong/bibir
(premaxillae) hingga pertengan pangkal sirip ekor (pangkal sirip ekor bukan berarti
sisik terakhir karena sisik-sisik tersebut biasanya memanjang sampai ke sirip ekor
Panjang kepala (HL) diukur mulai dari bagian terdepan moncong/bibir (premaxilla)
hingga bagian terbelakang operculum atau membran operculum.
Panjang batang ekor (LCP) diukur mulai dari jari terakhir sirip dubur hingga pertengan
pangkal batang ekor
Panjang moncong (SNL) diukur mulai dari bagian terdepan moncong/bibir hingga
pertengan garis vertikal yang menghubungkan bagian anterior mata
Tinggi sirip punggung (DD) diukur mulai dari pangkal hingga ujung pada jari-jari
pertama sirip punggung.
Diameter mata (ED) diukur mulai dari bagian anterior hingga posterior bola mata,
diukur mengikuti garis horisontal.
Tinggi batang ekor (DCP) diukur mulai dari bagian dorsal hingga ventral pangkal
ekor.
Tinggi badan diukur (BD) secara vertikal mulai dari pangkal jari-jari pertama sirip
punggung hingga pangkal jari-jari pertama sirip perut.
Panjang sirip dada diukur mulai dari pangkal hingga ujung jari-jari sirip dada.
Panjang sirip perut diukur mulai dari pangkal hingga ujung sirip perut.
Sirip ikan
Sirip-sirip pada ikan umumnya ada yang berpasangan dan ada yang tidak. Sirip
punggung, sirip ekor, dan sirip dubur disebut sirip tunggal atau sirip tidak
berpasangan. Sirip dada dan sirip perut disebut sirip berpasangan. Macam-macam
sirip ekor dapat dibedakan berdasarkan bentuk sirip tersebut. Bentuk sirip ekor ikan
ada yang simetris, apabila lembar sirip ekor bagian dorsal sama besar dan sama
bentuk dengan lembar bagian ventral, ada pula bentuk sirip ekor yang asimetris
yaitu bentuk kebalikannya. Bentuk-bentuk sirip ekor yang simetris yaitu:
Bentuk membulat, apabila pinggiran sirip ekor membentuk garis melengkung dari
bagian dorsal hingga ventral., contoh ikan gurame (Osphronemus gouramy)
Bentuk bersegi atau tegak, apabila pinggiran sirip ekor membentuk garis tegak dari
bagian dorsal hingga ventral, contoh ikan nila (Oreochromis niloticus)
Bentuk sedikit cekung atau berlekuk tunggal, apabila terdapat lekukan dangkal
antara lembar dorsal dengan lembar ventral, contoh ikan tambakan (Helostoma
temminckii).
Bentuk bulan sabit, apabila ujung dorsal dan ujung ventral sirip ekor melengkung
ke luar, runcing, sedangkan bagian tengahnya melengkung ke dalam, membuat
lekukan yang dalam, contoh ikan tongkol (Squalus sp.)
Bentuk bercagak, apabila terdapat lekukan tajam antara lembar dorsal dengan
lembar ventral, contoh ikan tawes (Puntius javanicus), ikan kembung (Rastrelliger
sp.)
Bentuk meruncing, apabila pinggiran sirip ekor berbentuk tajam (meruncing),
contoh ikan belut (Monopterus albus).
Bentuk lanset, apbila pinggirn sirip ekor pada pangkalnya melebar kemudian
membentuk sudut diujung, contoh ikan bloso (Glossogobius sp.)
Beberapa ikan ada yang memiliki satu atau dua sirip punggung. Pada ikan bersisirp
punggung tunggal, umumnya jari-jari bagian depan (1-40) tidak bersekat dan
mengeras, sedangkan jari-jari dibelakangnya lunak atau bersekat dan umumnya
bercabang. Pada ikan yang memiliki dua sirip punggung, bagian depannya terdiri
dari duri dan yang kedua terdiri dari duri di bagian depan diikuti oleh jari-jari lunak
atau bersekat umumnya bercabang.
Sisik ikan
Bentuk, ukuran dan jumlah sisik ikan dapat memberikan gambaran bagaimana
kehidupan ikan tersebut. Sisik ikan mempunyai bentuk dan ukuran yang beraneka
macam, yaitu sisik ganoid merupakan sisik besar dan kasar, sisik sikloid dan stenoid
merupakan sisik yang kecil, tipis atau ringan hingga sisik placoid merupakan sisik
yang lembut. Umumnya tipe ikan perenang cepat atau secara terus menerus
bergerak pada perairan berarus deras mempunyai tipe sisik yang lembut,
sedangkan ikan-ikan yang hidup di perairan yang tenang dan tidak berenang secara
terus menerus pada kecepatan tinggi umumnya mempunyai tipe sisik yang kasar.
Sisik sikloid berbentuk bulat, pinggiran sisik halus dan rata sementara sisik stenoid
mempunyai bentuk seperti sikloid tetapi mempunyai pinggiran yang kasar.
Jumlah sisik pada gurat sisi merupakan jumlah pori-pori pada gurat sisi atau jika
gurat sisi tidak sempurna atau tidak ada, maka jumlah sisik yang dihitung adalah
jumlah sisik yang biasa ditempati gurat sisi atau disebut deretan sisik sepanjang sisi
badan. Penghitungan sisik ini dimulai dari sisik yang menyentuh tulang bahu hingga
pangkal ekorJumlah sisik melintang badan merupakan jumlah baris sisik antara gurat sisi dan
awal sirip punggung atau sirip punggung pertama dan antara gurat sisi dan awal
sirip dubur. Sisik yang terdapat di depan awal sirip punggung dan sirip dubur
dihitung ½.
Jumlah sisik di depan sirip punggung meliputi semua sisik di pertengahan
punggung antara insang dan awal sirip punggung.
Jumlah sisik di sekeliling batang ekor meliputi jumlah baris sisik yang melingkari
batang ekor pada bidang yang tersempit.
Jumlah sisik di sekeliling dada merupakan jumlah sisik di depan sirip punggung
yang melingkari dada.
Mulut ikan
Bentuk, ukuran dan letak mulut ikan dapat menggambarkan habitat ikan tersebut
(Gambar 2.8). Ikan-ikan yang berada di bagian dasar mempunyai bentuk mulut
yang subterminal sedangkan ikan-ikan pelagik dan ikan pada umumnya mempunyai
bentuk mulut yang terminal. Ikan pemakan plankton mempunyai mulut yang kecil
dan umumnya tidak dapat ditonjolkan ke luar. Pada rongga mulut bagian dalam
biasanya dilengkapi dengan jari-jari tapi insang yang panjang dan lemas untuk
menyaring plankton. Umumnya mulut ikan pemakan plankton tidak mempunyai
gigi. Ukuran mulut ikan berhubungan langsung dengan ukuran makanannya.
Ikan-ikan yang memakan invertebrata kecil mempunyai mulut yang dilengkapi
dengan moncong atau bibir yang panjang. Ikan dengan mangsa berukuran besar
mempunyai lingkaran mulut yang fleksibel.
Bentuk tubuh ikan
Bentuk luar ikan seringkali mengalami perubahan dari sejak larva sampai dewasa
misal dari bentuk bilateral simetris pada saat masih larva berubah menjadi
asimetris pada saat dewasa. Bentuk tubuh ikan merupakan suatu adaptasi terhadap
lingkungan hidupnya atau merupakan pola tingkah laku yang khusus. Secara
umum, Moyle & Cech (1988) mengkatergorikan ikan kedalam enam kelompok yaitu
roverpredator (predator aktif), lie-in-wait predator (predator tak aktif),
surface-oriented fish (ikan pelagik), bottom fish (ikan demersal), ikan bertubuh
besar, dan ikan semacam belut (Gambar 2.9).
Predator aktif. Ikan ini mempunyai bentuk tubuh yang langsing/lurus (fusiform),
dengan mulut di ujung (terminal) dan batang ekor menyempit/kecil dengan bentuk
ekor cagak atau bulan sabit. Ikan-ikan kelompok ini selalu bergerak dan mengejar
mangsa, contoh ikan tuna. Bentuk tubuh dari ikan predator aktif sangat khas di
perairan mengalir.
Predator tak aktif merupakan kelompok ikan piscivora yang mempunyai bentuk
tubuh yang cocok untuk menangkap mangsa dengan cara menghadang ikan-ikan
perenang cepat. Tubuh berbentuk ramping/lurus memanjang seringkali beebentuk
sepertik torpedo. Kepala berbentuk rata dengan mulut yang besar dan bergigi. Sirip
ekor cenderung membesar dengan sirip punggung dan anal berada jauh dibelakang
badan dan letaknya segaris. Susunan sirip ikan seperti ini memberikan daya dorong
pada saat ikan ini akan meluncur dengan cepat untuk menangkap mangsa yanglewat. Kelompok ikan ini antara lain ikan-ikan air tawar Esocidae, Belonidae, Centropomidae.
Ikan pelagik, umumnya berukuran kecik, bentuk mulut superior, kepala berbentuk
pipih datar dengan mata lebar dan sirip punggung berada di bagian belakang
badan. Morfologi dari ikan ini sesuai untuk menangkap plankton dan ikan-ikan kecil
yang hidup di dekat permukaan air, atau insekta yang berada di permukaan contoh
ikan Gambusia, Fundulus.
Ikan demersal mempunyai bentuk tubuh yang beragam. Gelembung renang dari
ikan-ikan kelompok ini mereduksi atau tidak ada. Ikan demersal terbagi menjadi 5
tipe yaitu (i) ikan dasar yang aktif mempunyai bentuk tubuh seperti ikan predator
aktif tetapi bentuk kepala rata, mempunyai punuk dan sirip dada yang lebih besar.
(ii) ikan yang melekat di dasar merupakan ikan-ikan kecil dengan bentuk kepala
rata, sirip dadap membesar dengan struktur yang memungkinkan ikan ini berada di
dasar perairan. Struktur ikan ini banyak dijumpai di perairan berarus cepat atau
daerah intertidal yang mempunyai arus air yang kuat. (iii) ikan bottom- hider
mempunyai kesamaan respon dengan ikan pelekat tetapi tidak mempunyai alat
pelekat dan cenderung mempunyai bentuk tubuh yang memanjang dengan kepala
lebih kecil. Bentuk seperti ini lebih menyukai hidup di bawah batubatuan,
celah-celah. (iv) flatfish merupakan ikan dengan morfologi yang unik. Bentuk tubuh
membulat dengan mulut berada dibagian ventral yang sangat memungkinkan
untuk dapat mengambil makanan di dasar perairan, spirakula berada di bagian atas
dari kepala. (v) ikan bentuk rattail mempunyai tubuh bagian belakang memanjang
seperti ekor tikus, kepala besar dengan hidungyang sangat jelas dan sirip dada
besar. Umumnya, ikan seperti ini berada di laut dalam. Ikan-ikan ini merupakan
ikan pemakan bangkai dan memangsa invertebrata bentik.
Ikan berbadan membulat mempunyai ukuran tubuh 1/3 dari panjang standar (jarak
antara hidung hingga pangkal ekor). Sirip punggung dan sirip anal memanjang dan
sirip dada terletak lebih tinggi sedangkan sirip pelvik lebih rendah dari badan. Mulut
kecil dan dapat disembulkan, mempunyai mata yang besar dan hidung pendek.
Ikan dengan bentuk badan seperti belut mempunyai badan yang panjang dengan
bentuk kepala tumpul, ekor meruncing atau membulat. Jika dijumpai sirip-sirip yang
berpasangan misal sirip dada biasanya kecil sedangkan sirip punggung dan sirip
anal sangat panjang. Sisik berukuran sangat kecil atau tidak ada sama sekali.
Ikan-ikan ini seringkali berada di celah-celah atau lobang dari karang atau batuan.
Lerman (1986) membedakan bentuk tubuh ikan menjadi 4 yaitu :
Bentuk fusiform atau lurus seperti pada ikan tuna, hiu. Bentuk tubuh seperti ini
memungkinkan ikan untuk bergerak cepat yang terutama dalam menangkap
mangsa.
Bentuk pipih tegak seperti pada ikan Pontus triacanthus, memungkinkan untuk
mudah bergerak diantara tumbuh-tumbuhan air dan areal yang sempit. Tubuh yang
pipih memudahkan ikan tersebut menghindari tentakel beracun dari predator dan
masuk kedalam celah-celah karang atau di bawah vegetasi air.
Bentuk tubuh ikan lainnya adalah bentuk pipih datar dan bentuk tipis memanjang
seperti belut. Belut dan beberapa ikan bentuk ini mensekresi semacam lendir yang
dapat membantu gerakan di substrat lumpur dan mengurangi terjadinya perlukaan
pada tubuhnya (Gambar 2.10).
Jenis-jenis ikan Berdasarkan Tipe Makanan
Jenis ikan dapat digolongkan menjadi tujuh kelompok menurut jenis makanannya,
walaupun harus juga diingat bahwa beberapa jenis pola makannya berubah sesuai
dengan perubahan umur, musim dan ketersediaan makanan. Perbedaan golongan
ikan menurut jenis makanannya ini berkaitan antara satu golongan dengan
golongan lain. Penggolongan berdasarkan jenis makanannya menurut Mujiman
(1993) yaitu :
a. Herbivora. Ikan golongan ini makanan utamanya berasal dari bahan-bahan
nabati misalnya ikan tawes (Puntius javanucus), ikan nila (Osteochilus hasseli), ikan
bandeng 9Chanos chanos).
b. Karnivora. Ikan golongan ini sumber makanan utamanya berasal dari
bahan-bahan hewani misalnya ikan belut (Monopterus albus), ikan lele (Clarias
batrachus), ikan kakap (Lates calcarifer).
c. Omnivora. Ikan golongan ini sumber makanannya berasal dari bahan-bahan
nabati dan hewani, namun lebih menyesuaikan diri dengan jenis makanan yang
tersedia misalnya ikan mujair (Tilapia mossambica), ikan mas (Ciprinus carpio), ikan
gurami (Ospronemus goramy).
d. Pemakan plankton. Ikan golongan ini sepanjang hidupnya selalu memakan
plankton, baik fitoplankton atau zooplankton misalnya ikan terbang (Exocoetus
volitans), ikan cucut (Rhinodon typicus).
e. Pemakan detritus. Ikan golongan ini sumber makanannya berasal dari sisa-sisa
hancuran bahan organik yang telah membusuk dalam air, baik yang berasal dari
tumbuhan maupun hewan misalnya ikan belanak (Mugil sp.).
Selain penggolongan ikan seperti tersebut sebelumnya, Kottelat, et al. (1993)
membedakan ikan berdasarkan jenis makanannya menjadi tujuh golongan. Ketujuh
kelompok ikan tersebut yaitu :
a. Herbivora A (endogenus). Golongan ikan yang memakan bahan tumbuhan
yang hidup di air atau di dalam lumpur, misal alga, hifa jamur, alga biru. Ikan
golongan ini tidak mempunyai gigi dan mempunyai tapis insang yang lembut
sehingga dapat menyaring fitoplankton. Ikan ini tidak mempunyai lambung yang
benar yaitu bagian usus yang mempunyai jaringan otot yang kuat, mengekskresi
asam, mudah mengembang, dan terdapat di bagian muka alat pencernak
makanannya. Bentuk usus ikan golongan ini panjang berliku-liku dan dindingnya
tipis.
b. Herbivora B (eksogenus). Golongan ikan yang memakan bahan makanan dari
tumbuhan yang jatuh ke dalam air, misal buah-buahan, biji-bijian, daun. Bahan
makanan ini sangat penting bagi ikanikan di sungai. Oleh sebab itu hilangnya
vegetasi di sepanjang tepi sungai sangat berpengaruh bagi komunitas ikan secara
umum.
c. Predator 1 (endogenus). Golongan ikan yang memakan binatang-binatang air
kecil, misal nematoda, rotifera, endapan plankton dan invertebrata lain berupa
detritus di dalam lumpur atau pasir.
d. Predator 2 (endogenus). Golongan ikan yang memakan larva serangga atau
binatang air kecil lainnya.
e. Predator 3. Golongan ikan yang memakan binatang air yang lebih besar, misal
udang, siput, kepiting kecil yang umumnya berada di dasar air.
 f. Predator 4. golongan ikan yang memakan ikan-ikan lainnya.
g. Omnivora. Golongan ikan yang memakan bahan makanan yang berasal dari
binatang dan tumbuhan. Ikan golongan ini mempunyai sistem pencernakan antara
bentuk herbivora dan karnivora. Menentukan jenis makanan ikan tertentu secara
langsung tidaklah mudah, karena usus ikan kadang-kadang kosong. Namun,
pengamatan terhadap panjang usus dan hubungannya dengan panjang badan
dapat membantu untuk mengetahui jenis bahan makanan yang dimakannya. Ikan
herbivora, umumnya memiliki usus yang panjangnya 4-10 kali panjang badannya.
Ikan predator memiliki panjang usus yang lebih pendek atau sama panjang dengan
badannya.
Selain penggolongan ikan berdasarkan jenis makanannya, ikan dibedakan juga
berdasarkan spesialisasi dari makanannya yaitu :
a. Monophagus : ikan hanya mengkonsumsi satu jenis makanan
b. Stenophagus : ikan mengkonsumsi makanan yang terbatas jenisnya
c. Euriphagus : ikan mengkonsumsi bermacam-macam atau campuran jenis
makanan.
Umumnya ikan-ikan yang ada di alam termasuk ke dalam euriphagus ini. Jenis
bahan makanan dan ketersediannya juga menentukan ditribusi ikan-ikan diperairan.
Umumnya, semakin besar ukuran sungai semakin besar pula jumlah dan
keanekaragaman ikannya; dan proporsi biomassa ikan yang bergantung kepada
tumbuhan air dan tumbuhan darat semakin meningkat.
Sumber : http://blog.unsri.ac.id/ekaunsri2007/morfologi-ikan/sr/64/

Selasa, 03 Desember 2013

SOSIALISASI



Ketika bayi dilahirkan, dia tidak tahu apa-apa tentang diri dan lingkungannya. Walau begitu, bayi tersebut memiliki potensi untuk mempelajari diri dan lingkungannya. Apa dan bagaimana dia belajar, banyak sekali dipengaruhi oleh lingkungan sosial di mana dia dilahirkan. Kita bisa berbahasa Indonesia karena lingkungan kita berbahasa Indonesia; kita makan menggunakan sendok dan garpu, juga karena lingkungan kita melakukan hal yang sama; Demikian pula apa yang kita makan, sangat ditentukan oleh lingkungan kita masing-masing.
     Sosialisasi adalah satu konsep umum yang bisa dimaknakan sebagai sebuah proses di mana kita belajar melalui interaksi dengan orang lain, tentang cara berpikir, merasakan, dan bertindak, di mana kesemuanya itu merupakan hal-hal yang sangat penting dalam menghasilkan partisipasi sosial yang efektif. Sosialisasi merupakan proses yang terus terjadi selama hidup kita.

Syarat terjadinya sosialisasi

      Pada dasarnya, sosialisasi memberikan dua kontribusi fundamental bagi kehidupan kita. Pertama, memberikan dasar atau fondasi kepada individu bagi terciptanya partisipasi yang efektif dalam masyarakat, dan kedua memungkinkan lestarinya suatu masyarakat – karena tanpa sosialisasi akan hanya ada satu generasi saja sehingga kelestarian masyarakat akan sangat terganggu..Contohnya, masyarakat Sunda, Jawa, Batak, dsb. akan lenyap manakala satu generasi tertentu tidak mensosialisasikan nilai-nilai kesundaan, kejawaan, kebatakan kepada generasi berikutnya. Agar dua hal tersebut dapat berlangsung maka ada beberapa kondisi yang harus ada agar proses sosialisasi terjadi. Pertama adanya warisan biologikal, dan kedua adalah adanya warisan sosial.    
  1. Warisan dan Kematangan Biologikal .
     Dibandingkan dengan binatang, manusia secara biologis merupakan makhluk atau spesis yang lemah karena tidak dilengkapi oleh banyak instink. Kelebihan manusia adalah adanya potensi untuk belajar dari pengalaman-pengalaman hidupnya. Warisan biologis yang merupakan kekuatan manusia, memungkinkan dia melakukan adaptasi pada berbagai macam bentuk lingkungan. Hal inilah yang menyebabkan manusia bisa memahami masyarakat yang senantiasa berubah, sehingga lalu dia mampu berfungsi di dalamnya, menilainya, serta memodifikasikannya. Namun tidak semua manusia mempunyai warisan biologis yang baik, sebab ada pula warisan biologis yang bisa menghambat proses sosialisasi. Manusia yang dilahirkan dengan cacat pada otaknya atau organ tubuh lainnya (buta, tuli/bisu, dsb.) akan mengalami kesulitan dalam proses sosialisasi.
      Proses sosialisasi juga dipengaruhi oleh kematangan biologis (biological maturation), yang umumnya berkembang seirama dengan usia biologis manusia itu sendiri. Misalnya, bayi yang usianya empat minggu cenderung memerlukan kontak fisik, seperti ciuman, sentuhan, pelukan. Begitu usianya enambelas minggu maka dia mulai bisa membedakan muka orang lain yang dekat dengan

*) Disadur dari ”Early Socialization” Wiggins, Wiggins & Zanden, 1994.
dirinya, dan lalu mulai bisa tersenyum. Pada usia tiga bulan, seorang bayi jangan diminta untuk berjalan atau pun berhitung, berpakaian, dan pekerjaan lainnya. Semua itu akan sia-sia, menghabiskan waktu karena secara biologis, bayi tersebut belum cukup matang. Dengan demikian warisan dan kematangan biologis merupakan syarat pertama yang perlu diperhatikan dalam proses sosialisasi.

2.      Lingkungan yang menunjang.
      Sosialisasi juga menuntut adanya lingkungan yang baik yang menunjang proses tersebut, di mana termasuk di dalamnya interaksi sosial. Kasus di bawah ini dapat dijadikan satu contoh tentang pentingnya lingkungan dalam proses sosialisasi. Susan Curtiss (1977) menaruh minat pada kasus anak yang diisolasikan dari lingkungan sosialnya. Pada tahun 1970 di California ada seorang anak berusia tigabelas tahun bernama Ginie yang diisolasikan dalam sebuah kamar kecil oleh orang tuanya. Dia jarang sekali diberi kesempatan berinteraksi dengan orang lain. Kejadian ini diketahui oleh pekerja sosial dan kemudian Ginie dipindahkan ke rumah sakit, sedangkan orang tuanya ditangkap dengan tuduhan melakukan penganiayaan dengan sengaja. Pada saat akan diadili ternyata ayahnya bunuh diri.
      Ketika awal berada di rumah sakit, kondisi Ginie sangat buruk. Dia kekurangan gizi, dan tidak mampu bersosialisasi. Setelah dilakukan pengujian atas kematangan mentalnya ternyata mencapai skor seperti kematangan mental anak-anak berusia satu tahun. Para psikolog, akhli bahasa, akhli syaraf di UCLA (Universitas California) merancang satu program rehabilitasi mental Ginie. Empat tahun program tersebut berjalan ternyata kemajuan mental Ginie kurang memuaskan. Para akhli tersebut heran mengapa Ginie mengalami kesukaran dalam memahami prinsip tata bahasa, padahal secara genetis tidak dijumpai cacat pada otaknya. Sejak dimasukan ke rumah sakit sampai dengan usia dua puluh tahun, Ginie dilibatkan dalam lingkungan yang sehat, yang menunjang proses sosialisasi. Hasilnya, lambat laun Ginie mulai bisa berpartisipasi dengan lingkungan sekitarnya.
       Penelitian lain dilakukan oleh Rene Spitz (1945). Dia meneliti bayi-bayi yang ada di rumah yatim piatu yang memperoleh nutrisi dan perawatan medis yang baik namun kurang memperoleh perhatian personal. Ada enam perawat yang merawat empat puluh lima bayi berusia di bawah delapan belas bulan. Hampir sepanjang hari, para bayi tersebut berbaring di dalam kamar tidur tanpa ada “human-contact”. Dapat dikatakan, bayi-bayi tersebut jarang sekali menangis, tertawa, dan mencoba untuk bicara. Skor tes mental di tahun pertama sangat rendah, dan dua tahun kemudian penelitian lanjutan dilakukan dan ditemukan di atas sepertiga dari sembilan puluh satu anak-anak meninggal dunia. Dari apa yang ditemukannya, Spitz menarik kesimpulan bahwa kondisi lingkungan fisik dan psikis seorang bayi pada tahun pertama sangat mempengaruhi pembentukan mentalnya. Bayi pada saat itu sangat memerlukan sentuhan-sentuhan yang memunculkan rasa aman – kehangatan, dan hubungan yang dekat dengan manusia dewasa – sehingga bayi dapat tumbuh secara normal  di usia-usia selanjutnya.

Apa yang disosialisasikan ? : Budaya .
Anak dilahirkan dalam dunia sosial. Mereka merupakan anggota baru di dunia tersebut. Dari kacamata masyarakat, fungsi sosialisasi adalah mengalihkan segala macam informasi yang ada dalam masyarakat tersebut kepada anggota-anggota barunya agar mereka dapat segera dapat berpartisipasi di dalamnya.
     Berdasarkan pengalaman yang kita miliki, banyak aspek-aspek kehidupan kita relatif stabil dan bisa diprediksi. Jalan-jalan yang cenderung padat di pagi hari, orang berlibur di akhir pekan,  anak-anak usia enam tahun mulai bersekolah, tata letak bangunan fisik suatu kota – ada alun-alun, pusat perbelanjaan, terminal bis, dsb., makan tiga kali dalam satu hari. Kesemua perilaku masyarakat tadi sudah membentuk satu pola perilaku umum yang secara teratur terjadi setiap hari. Keteraturan yang relatif stabil tersebut mengembangkan satu pola interaksi sebagai satu bentuk dari budaya. Budaya atau kebudayaan adalah keseluruhan hal yang yang diciptakan oleh unit-unit sosial di mana setiap anggota unit sosial tersebut memberikan makna yang relatif sama pada hal-hal tadi; keyakinannya, nilai, norma, pengetahuan, bahasa, pola interaksi, dan juga hal-hal yang berkaitan dengan sarana fisik, seperti bangunan, mobil, baju, buku.

Komponen atau unsur Budaya
Nilai adalah prinsip-prinsip etika yang dipegang dengan kuat oleh individu atau kelompok sehingga mengikatnya dan lalu sangat berpengaruh pada perilakunya. Nilai berkaitan dengan gagasan tentang baik dan buruk, yang dikehendaki dan yang tak dikehendaki. Nilai membentuk norma, yaitu aturan-aturan baku tentang perilaku yang harus dipatuhi oleh setiap anggota suatu unit sosial sehingga ada sanksi negatif dan positif. Norma sendiri ada berbagai tingkatan , yaitu adat istiadat (folkways) – cara makan, cara berpakaian, - anggota yang tidak melaksanakannya “hanya” kena sanksi sosial mis : dianggap aneh, “nyleneh”;  “mores” – aturan bisa tidak tertulis namun sanksinya relatif berat  - misalnya telanjang bulat di depan kelas akan dianggap gila ;  dan hukum (laws) – aturannya tertulis dan perlanggarnya bisa diperjarakan. Selain nilai dan norma, satu unsur budaya lainnya adalah peran. Peran atau peranan adalah seperangkat harapan atau tuntutan kepada seseorang untuk menampilkan perilaku tertentu karena orang tersebut menduduki suatu status sosial tertentu.

Siapa yang mensosialisasikan budaya ? : Agen Sosialisasi
Institusi. Institusi adalah satu bentuk unit sosial yang memfokuskan pada pemenuhan satu bentuk kebutuhan masyarakat. Misalnya sekolah, keluarga, agama. Mass-media : koran, majalah, televisi, radio. Individu dan kelompok – kakak, adik, ayah, ibu, teman, guru, kelompok hobi, korpri, dharmawanita, dsb.

Bagaimana cara mensosialisasikan budaya ?
     Sosialisasi melibatkan proses pembelajaran . Pembelajaran tidak sekedar di sekolah formal, melainkan berjalan di setiap saat dan di mana saja. Yang dimaksud dengan belajar atau pembelajaran adalah modifikasi perilaku seseorang yang relatif permanen yang diperoleh  dari pengalamannya di dalam lingkungan sosial/ fisik. Seseorang selalu mengucapkan salam pada saat bertemu orang lain yang dikenalnya; perilaku tersebut merupakan hasil belajar yang diperoleh dari lingkungan di mana dia dibesarkan. Demikin pula seorang yang suka makan “jengkol/jering”, mereka belajar dari lingkungannya.
     Ada tiga teori yang relatif kuat yang dapat menjelaskan proses pembelajaran dalam sosialisasi. Pertama adalah teori pembelajaran sosial (social learning theory), kedua teori perkembangan individu (developmental theory), dan ketiga teori interaksi simbolis (symbolic interaction theory). 

   A. Berdasarkan teori pembelajaran sosial, pembelajaran terjadi melalui dua cara. (1) dikondisikan, dan (2) meniru perilaku orang lain. Tokoh utama pendekatan pertama adalah B.F. Skinner (1953), yang terkenal dengan konsep operant conditioning – Berdasarkan berbagai percobaan melalui tikus dan merpati, Skinner memperkenalkan konsepnya tersebut. Perilaku  yang sekarang ditampilkan merupakan hasil konsekuensi positif atau negatif dari perilaku yang sama sebelumnya. Seorang anak rajin belajar karena  memperoleh hadiah dari orang tuanya. Seorang murid yang mempeoleh nilai baik, dipuji-puji di depan orang banyak. Memuji, memberi imbalan, merupakan cara untuk memunculkan bentuk perilaku tertentu. Memarahi, memberi hukuman, merupakan cara untuk menghilangkan perilaku tertentu. Dengan demikian jika generasi awal ingin melestarikan berbagai bentuk perilaku kepada generasi sesudahnya, maka kepada setiap perilaku yang dianggap perlu dilestarikan harus diberikan imbalan. Seorang anak diminta berdoa sebelum makan, dan setelah selesai berdoa, orang tuanya memujinya .
      Pendekatan kedua dikenal dengan nama “observational learning”. Tokoh di balik konsep tersebut adalah Albert Bandura. Inti perndekatan ini adalah bahwa perilaku seseorang diperoleh melalui proses peniruan perilaku orang lain. Individu meniru perilaku orang lain karena konsekuensi yang diterima oleh orang lain yang menampilkan perilaku tersebut positif, dalam pandangan individu tadi. Jika kita ingin mensosialisasikan hidup secara teratur, disiplin, maka caranya adalah memberikan contoh. Di samping itu bisa juga menciptakan model yang layak untuk ditiru. 

  B.  Berdasarkan teori-teori perkembangan, pembelajaran , sosialisasi di tahap awal melibatkan serangkaian tahapan. Setiap tahap akan memunculkan bentuk perilaku tertentu dan setiap manusia perilakunya berkembang melalui tahapan yang sama. Misalnya, tahap perkembangan yang dikemukakan oleh Erik Ericson (1950), ada delapan tahapan. Tahap pertama pengembangan rasa percaya pada lingkungan, tahap kedua pengembangan kemandirian, tahap ketiga pengembangan inisiatif, tahap keempat pengembangan kemampuan psikis dan pisik, tahap kelima pengembangan identitas diri. Kelima tahapan tersebut terjadi pada saat sosialisasi di masa kanak-kanak. Tahap perkembangan setelah itu adalah tahap keenam merupakan pengembangan hubungan dengan orang lain secara intim, tahap ketujuh pengembangan pembinaan keluarga/keturunan, dan tahap kedelapan pengembangan penerimaan kehidupan.
     Interaksi dengan manusia lain dalam proses sosialisasi merupakan satu keharusan. Interaksi senantiasa mengandalkan proses komunikasi, dan salah satu alat komunikasi adalah bahasa. Kapasitas seseorang berbahasa dipengaruhi oleh akar biologis yang sangat dalam, namun  pelaksanaan kapasitas tersebut sangat ditentukan oleh lingkungan budaya di mana kita dibesarkan. Berdasarkan teori perkembangan ada beberapa tahapan yang harus dilalui. Tahap pertama adalah di tahun pertama, yaitu tahapan sebelum seorang anak berbahasa (prelinguistic stage). Disebut sebagai “sebelum berbahasa” karena bunyi yang dikeluarkan belum disebut kata-kata. Misalnya : “a-a-a-a, det-det-det, ga-ga-ga, “. Tahap kedua adalah tahap di mana anak sudah mulai belajar berjalan (toddlers). Mulai belajar bicara, misalnya “tu-tu” untuk kata “itu”; “dul” untuk kata “tidur”, “mi-mi” untuk kata “minum”, dst.  Di samping bahasa verbal, dalam tahapan itu juga, anak juga sudah mulai menggunakan bahasa nonverbal (body language). Menganggukan kepala untuk mengatakan ya, menunjuk dengan jari untuk mengatakan itu, dsb.  Tahap ketiga : sebelum masuk sekolah. Anak sudah bisa bicara dengan kata-kata dan struktur bahasa yang sederhana. dan terbatas pada apa yang diajarkan oleh keluarga. Tahap berikutnya terjadi setelah anak mulai sekolah. Dalam tahapan ini anak memperoleh perbendaharaan kata yang lebih banyak. Mereka juga belajar menyusun kata-kata secara lebih benar sesuai dengan ejaan yang secara umum digunakan oleh masyarakat luas. 
     Selain perkembangan dalam hal-hal tersebut sebelumnya, manusia mengalami perkembangan moral (moral development). Salah satu konsep yang banyak dibahas adalah terori yang dikemukakan oleh Lawrence Kohlberg (1984). Lihat lampiran.

C.      Berdasarkan teori interaksi simbolis
Asal teori ini dari disiplin sosiologi, yaitu satu teori yang memusatkan pada kajian tentang bagaimana individu menginterpretasikan dan memaknakan interaksi-interaksi sosialnya. Di dalam teori ini ditekankan bagaimana peran aktif seorang anak dalam sosialisasi. Sejak masa kanak-kanak, kita belajar mengembangkan kemampuan diri (mengevaluasi diri, memotivasi diri, mengendalikan diri). Menurut Herbert Mead (1934) ada tiga proses tahapan pengembangan diri yang memungkinkan seorang anak menjadi mampu berpartisipasi penuh dalam kehidupan sosial. Tahap pertama adalah preparatory stage, tahap kedua play stage, dan tahap terakhir adalah game stage.
    Pada tahapan pertama, anak belum mampu memandang perilakunya sendiri. Mereka meniru perilaku orang lain yang ada di sekitarnya dan mencoba memberikan makna. Anak juga mulai belajar menangkap makna dari bahasa yang digunakannya. Pada tahapan kedua, anak mulai belajar berperan seperti orang lain. Berperilaku seperti ayahnya, ibunya, guru, dsb. Melalui bermain peran yang beraneka ragam itu anak mempelajari pola-pola perilaku individu lainnya . Tahap ketiga merupakan tahapan di mana anak melatih ketrampilan sosialnya. Dia belajar bagaimana memenuhi harapan orang lain yang jumlahnya tidak hanya satu. Memenuhi harapan teman-temannya, kelompok bermainnya, kelompok belajarnya, dsb.

Jumat, 08 November 2013

10 JENIS IKAN YANG HAMPIR PUNAH

Berikut ini adalah ikan langka di Indonesia yang keberadannya kian menyusut, bahkan jumlahnya  tinggal hitungan ekor:
1. Pesut mahakam (Orcaella brevirostris)
Adalah mamalia air tawar yang memiliki bentuk mirip dengan lumba-lumba, namun memiliki moncong yang relatif datar, sehingga disebut “lumba-lumba air tawar”. Berdasarkan data tahun 2007, populasi pesut mahakam hanyalah tinggal 50 ekor saja dan menempati urutan tertinggi satwa Indonesia yang terancam punah. Didunia Populasi pesut yang dilindungi oleh undang-undang hanya di 3 lokasi: Sungai Mahakam, Sungai Irawady, dan Sungai Mekong. Namun pesut di 2 lokasi, (di Mekong dan di Irawady dikabarkan telah punah. Tinggal upaya kita apakah akan membiarkan Pesut Mahakam menyusul sepupunya di Mekongdan di Irawady.

pesut


2. Ikan Raja Laut/ Coelacanth
Coelacanth
merupakan ikan purba yang memiliki 120 spesies berdasarkan hasil identifikasi fosil. Coelacanth dinyatakan punah akhir Zaman Cretaceous (sekitar 65 juta tahun silam). Hingga tahun 1938, ditemukan Coleacanth hidup, Spesies “Latimeria Chalumnae”  tersangkut jaring hiu di Chalumna, Afrika Selatan. Diketahui ikan ini memiliki populasi di kepulauan Komoro. Pada tahun 1998, 60 tahun setelah ditemukannya fosil  hidup coelacanth Komoro, seekor coelacanth spesies baru“Latimeria menadoensis” tertangkap jaring nelayan di perairan Pulau Manado Tua, Sulawesi Utara. Masyarakat Sulawesi menyebutnya dengan “Ikan Raja Laut”. Maka kini orang mengetahui bahwa ada populasi coelacanth yang kedua di sulawesi. Kita sangat patut berbangga dengan kekayaan negri ini.

m9onotg0

3. Ikan Matahari /(Mola mola/Mola ramsayi)
Mola-mola atau yang lebih populer dengan nama “Sun Fish” (Ikan Matahari) adalah ikan langka tropis dan subtropis yang menjadi perburuan bagi Diver/Penyelam dan fotografer Under Water diseluruh dunia. Ikan Mola-mola dewasa dapat mencapai panjang 1 meter dengan berat 1-2 ton. Uniknya, ikan Mola-mola hampir tidak memiliki sirip ekor, namun memiliki clavus, yang merupakan sambungan sirip pungung dan sirip perut. Beruntungnya Indonesia menjadi salah satu tempat persinggahan, Mola-mola dapat dijumpai sepanjang bulan Juli-September di Lembongan, Bali.

untitled

4. Hiu Sentani (Pritis macrodon)
Hiu Sentani adalah nama populer dari  jenis Hiu gergaji endemik dari danau Sentani, Papua. Orang barat menyebutnya “Largetooth Jawfish”  yang berarti ikan hiu bergigi besar. Saat ini Hiu Sentani sudah mulai jarang ditemukan. IUCN memasukkan Hiu Sentani dalam red list hewan terancam punah. Populasi Hiu Sentani Semakin menurun akibat menipisnya habitat mereka dan perburuan ilegal.


xlarge

5. Arwana Asia/Peyang (Scleropages formosus)
Arwana Asia
adalah salah satu jenis ikan air tawar Asia Tenggara yang biasa disebut Siluk Merah. Arwana Asia terdaftar dalam daftar spesies langka berstatus “terancam punah” oleh IUCN pada Tahun 2004, karena jumlah yang terus menurun akibat perdagangan dan kerusakan habitat. Arwana Asia umumnya memiliki warna keperak-perakan. Arwana Asia adalah spesies asli sungai-sungai di Asia Tenggara. Ikan Arwana memiliki 4 Varian berdasarkan perbedaan warna: Hijau: ditemukan di Indonesia, Thailand, Malaysia, Vietnam dan Myanmar, Merah: ditemukan di Indonesia, Emas dengan ekor merah: hanya ditemukan di Indonesia, dan warna Emas: ditemukan di Malaysia.


02copyg

6. Lopis/Belida (Chitala lopis)
Adalah Jenis Ikan dari suku ikan punggung pisau (Notopteridae). Di Indonesia ikan ini sangat populer dengan nama belida, yang merupakan nama sungai yang menjadi habitatnya di Sumatra Selatan. Belida dapat ditemukan di Sumatra, Jawa, Kalimantan dan Semenanjung Malaya, namun saat ini sangatlah sulit menemukannya, karena rusaknya kualitas sungai.  Karena terancam punah, lembaga penelitian berusaha menyusun teknologi budidayanya. Hingga 2005, Balai Budidaya Air Tawar Mandiangain di Kalsel telah mencoba membudidayakan, menangkarkan serta memperbanyak benih ikan belida.


giant_featherback

7. Ikan Napoleon (Cheilinus undulatus)
Ikan Napoleon adalah ikan karang berukuran besar, dengan ukuran bisa mencapai 2 m dengan berat 190 kg. Ikan Napoleon terutama ditemukan di terumbu karang di kawasan perairan India-Pasifik. Penelitian yang dilakukan IUCN 2005 di Sulawesi Utara, NTT, Bali dan Raja Ampat, menunjukan bahwa di habitatnya Napoleon mendapat tekanan (target penangkapan) sangat tinggi sehingga populasinya menurun dan sangat jarang ditemukan. Napoleon dimasukkan ke dalam daftar merah IUCN (Endangered/Terancam punah) pada tahun 2004 dan appendix II CITES pada tahun 2005.

 Napoleon wrasse at Blue Corner in Palau | Cheilinus undulatus

Minggu, 03 November 2013

SKRIPSI BARU

PENDAHULUAN


Latar belakang
Sistem penglihatan merupakan penghubung dengan lingkunganya, dimana dapat mengenali cahaya, warna dan bentuk semua benda, penglihatan dapat dikatakan sebagai system sensorik yang paling penting, sebab sebagian besar informasi yang diterima melalui indera penglihatan. Mata sebagai organ yang menyusun system penglihatan mempunyai dua fungsi yang berbeda namun saling berhubungan erat. Pertama mata merupakan suatu alat optic yang menerima gelombang cahaya dan merubahnya dalam bentuk bayangan. Kedua, mata merupakan reseptor sensoris yang memberikan respon terhadap bayangan yang terbentuk pada retina kemudian mengerimnya ke otak ( Siregar, dkk, 1995 ).
Respon visual dari ikan dapat dilihat pada saat pengoperasian dengan alat tangkap jaring namun hal tersebut dapat disesuaikan berdasarkan jenis ukuran dan perbedaan spesies dalam hal jarak pandang dan ketajaman visual.Untuk memahami mekanisme dari respon tingkah laku pada saat proses penangkapan, bagaimana ikan mengenali alat tangkap kemudian bagaiman ikan bisa menghindari alat tangkap dapat diketahui dalam ilmu histologi. Indera penglihatan ikan pada sebagian besar jenis ikan ekonomis penting adalah merupakan indera yang utama yang memungkinkan mereka untuk terciptanya pola tingkah laku mereka terhadap lingkunganya. Indera penglihatan ikan akan mempunyai sifat khas tertentu oleh adanya berbagai faktor seperti jarak penglihatan yang jelas, kisaran dan cakupan penglihatan, warna yang jelas, kekontrasan dan kemampuan membedakan objek yang bergerak  (Gunarso, 1985). 
 Mata bagi ikan berfungsi sebagai jendela yang menghubungkan organisme dengan dunia luar memberikan konstribusi yang sangat penting bagi kehidupan ikan. Keberhasilan ikan untuk eksis dan mempertahankan kelangsungan hidup keturunannya di habitatnya, adalah salah satu kontribusi penglihatan, disamping indera atau reseptor lainnya. Kemampuaan mata melihat oleh ikan digunakan untuk menangkap mangsa/makanannya, menghindari musuhnya dan alat tangkap. Selanjutnya juga berperan penting menentukan teritorialnya, mencari pasangannya, dan mencari tempat pengasuhan bagi anak-anaknya ( Razak, dkk, 2005).
    Perkembangan metode dan operasi penangkapan ikan hingga saat ini banyak ditentukan oleh target tangkapannya dengan memanfaatkan tingkah laku ikan. Selama ini pemanfaatan tingkah laku ikan dalam bidang penangkapan yang telah banyak digunakan adalah penggunaan cahaya untuk menarik gerombolan ikan pada waktu malam hari. Hampir dapat dikatakan bahwa ikan-ikan pelagis merupakan ikan-ikan yang tertarik oleh cahaya baik cahaya alami (Matahari) maupun cahaya buatan (Lampu). Adaptasi mata ikan terhadap cahaya berbeda untuk setiap jenis ikannya, hal tersebut disebabkan karena setiap jenis ikan mempumyai tingkat sensivitas cahaya yang berbeda beda. Sensifitas mata ikan dalam merespon cahaya dapat diidentifikasi berdasarkan kontraksi dari sel kon dengan melihat pergerakan dari elipsoid kon di dalam lapisan sel penglihatan (Visual cell Layer) (Hajar, 2008).
Sebagian besar spesies ikan beraneka ragam habitatnya, retina mata ikan memperlihatkan struktur yang bervariasi. Struktur retina telah dibentuk oleh tekanan selektif intensitas cahaya dan spectral dalam lingkungan, serta resolusi ruang yang dibutuhkan oleh hewan untuk bertahan hidup. Selanjutnya dikatakan bahwa pada kebanyakan ikan, mata adalah reseptor penglihatan yang sangat sempurna, system optik pada mata ikan melakukan pengumpulan cahaya dan membentuk suatu fokus bayangan untuk analisis oleh retina. Sensitifitas dan ketajaman mata tergantung pada terangnya bayangan yang mencapai retina (Fujaya, 1999).
Fungsi mata ikan selain dapat diketahui dari tingkat sensifitasnya dalam merespon cahaya, juga dapat dikaji berdasarkan penglihatan mata ikan dari tingkat kemampuan penglihatannya. Di Indonesia pemahaman dan kajian mengenai kemampuan penglihatan ikan masih sangat terbatas, di pelajari dan diteliti. Disisi lain pengetahuan tentang kemampuan penglihatan mata ikan sangat penting dalam memahami tingkah laku ikan dalam merespon alat tangkap. Kemampuan penglihatan mata ikan dapat diidentifikasi melalui observasi fisiologi dengan menganalisis berdasarkan metode histologi retina mata ikan (Hajar, 2008, Arimoto, 1988).
Ikan layur merupakan salah satu kelompok (species group) dalam komunitas sumber daya demersal. Dengan demikian keberadaan populasi ikan layur akan terlibat dalam proses-proses dinamika dalam komunitas ikan demersal, seperti interaksi biologis antar jenis. Bentuk interaksi tersebut antara lain adalah antar hubungan pemangsaan (predator-prey relationship) dan persaingan makanan (food competetion). Salah satu perilaku ikan layur adalah ‘voracious’ atau sangat ‘rakus’, sehingga dalam suatu komunitas tertentu ikan layur dapat merupakan ‘top predator’ yang memperebutkan makanannya berupa ikan-ikan berukuran kecil dengan ikan-ikan predator lainnya.
Perilaku kebiasaan makan ikan layur dewasa dan layur anakannya (yuwana, juvenile) berhubungan erat dengan kebiasaan migrasi vertikal (diurnal – siang; nocturnal - malam) mempunyai sifat yang berlawanan. Pada siang hari layur dewasa biasanya bermigrasi vertikal ke dekat permukaan untuk mencari makan dan kembali bermigrasi ke dasar perairan pada malam hari. Ikan layur anakannya yang berukuran kecil akan membentuk gerombolan (schooling) mulai dari dasar sampai ke dekat permukaan pada siang hari dan pada malam hari menyebar dan mengelompok untuk mencari makan sampai ke dekat permukaan.
Berdasarkan kepentingan ini dalam aplikasinya di bidang teknologi penangkapan ikan, sehingga penelitian ini perlu dilakukan untuk megetahui tingkat kemampuan penglihatan mata ikan, khususnya ikan Layur (Trichiurus savala).
B. Tujuan Dan Kegunaan
Tujuan penelitian ini dilakukan adalah untuk mengetahui kemampuan penglihatan mata ikan Layur (Trichiurus Savala) yang dapat di aplikasikan dalam bidang teknologi penangkapan ikan dengan :
Mendeskripsikan struktur susunan kon (cone mosaic) sel-sel penglihatan di dalam retina mata ikan
Mengetahui arah ketajaman penglihatan ikan (Visual axis)
Menentukan tingkat ketajaman penglihatan mata ikan (Visual acuity)
Mengetahui jarak maksimum penglihatan mata ikan berdasarkan ukuran terhadap suatu objek  (Maximum sighting distance)
Mejelaskan hubungan antara tingkat ketajaman mata ikan dan penerapannya pada bidang teknologi penangkapan ikan.
Kegunaan penelitian ini adalah mengklarifikasi fenomena dan pengetahuan tingkah laku ikan dalam merespon alat tangkap yang dapat digunakan dalam menentukan startegi penangkapan. Khususnya respon mata pada ikan layur (Trichiurus savala) terhadap alat tangkap.

Kamis, 24 Oktober 2013

PREDIKSI KEKERABATAN IKAN DI PERAIRAN JAWA TIMUR



Semua family/spesies ikan di lokasi P_Santan dengan Damas memiliki koefisien kekerabatan sebesar 1. Semua family/spesies ikan di lokasi Brondong dengan Mayangan memiliki koefisien kekerabatan sebesar 4.82. Semua family/spesies ikan di lokasi (P_Santan dan Damas) dengan P_Dangkal memiliki koefisien kekerabatan sebesar 2.64. Semua family/spesies ikan di lokasi (P_Santan, Damas dan P_Dangkal) dengan P_Redjo memiliki koefisien kekerabatan sebesar 3.12. Semua family/spesies ikan di lokasi (P_Santan, Damas, P_Dangkal dan P_Redjo) dengan (Brondong dan Mayangan) memiliki koefisien kekerabatan sebesar 5. Semua family/spesies ikan di lokasi Prigi dengan 6 lokasi lainnya selain G_Gede memiliki koefisien kekerabatan sebesar 6.55. Semua family/spesies ikan di perairan G_Gede dengan lokasi lainnya memiliki koefisien kekerabatan sebesar 6.91. Jadi, lokasi P_Santan dan Damas merupakan lokasi yang terisolasi dan G_Gede merupakan lokasi yang mempunyai persamaan cukup tinggi.